Rabu, 10 Desember 2008

Amanat Komando Kemanusian (Bagian 2)

DR dr Soewardjono Surjaningrat SpOG


Ditangan pria kelahiran Purwodadi, Grobogan, 3 Mei 1923, Lembaga Keluarga Berencana ABRI (sekarang TMKK) bisa dibentuk dan sampai detik ini faeadah kelembagaan tersebut dapat dirasakan masyarakat kecil pesisir secara kontinyu selama bertahun-tahun. Berpengalaman soal Keluarga Berencana sewaktu menjalani kedinasan di Rumahsakit Tentara Dustira Cimahi serta keprihatinannya terhadap kematian ibu melahirkan yang tinggi membuat pria lulusan Kedokteran Universitas Indonesia ini merasa terpanggil untuk melakukan misi tugas kemanusiaan dialah DR dr Soewardjono Surjaningrat SpOG yang waktu itu berpangkat kolonel.
LKB-ABRI inilah dalam perkembanganya selanjutnya melahirkan kegiatan TNI Manunggal KB-Kesehatan yang antara lain bertujuan meningkatkan kemantapan ber-KB menjadi peserta aktif, peningkatan jumlah peserta mandiri bagi yang mampu, peningkatan jumlah peserta KB Kontrasepsi mantap (MOP/MOW) serta menurunkan persentase pasangan usia subur yang belum atau terlayani KB padalah sudah tidak ingin anak serta menunda kehamilan anak berikutnya (unmet need). Keadaan ini menggambarkan adanya kebutuhan terhadap pelayanan yang tidak terlayani dengan salahsatu penyebabnya adalah minimnya tenaga provider KB yang ada dilapangan kecamatan.
Terbentuk LKB-ABRI mengalami perkembangan dan berakar. Advokasi pendiriannya bukan hanya di Komando Daerah Militer Siliwangi, melainkan kesejumlah Kodam. Militer dengan sistim komando memudahkan upaya DR dr Soewardjono Surjaningrat SpOG melakukan advokasi kepada seluruh kodam khususnya kepada seluruh kepala kesehatan Kodam harus melaksanakan program Keluarga Berencana dan ini merupakan perintah komandan yang wajib dilaksanakan.
Tercapainya keinginan dengan penerapan sistim komando, LKB-ABRI memang dapat dibentuk namun tujuan atau sasaran yang sebenarnya belum sebenarnya tercapai. Salahsatu kendala yang dialami saat itu belum adanya pengertian yang mendalam tentang arti KB, terutama dikalangan istri tentara; yang justru mempunyai hubungan langsung dengan masyarakat. Padahal ABRI dianggap mempunyai pengaruh terhadap keluarga, lingkungan, dan masyarakat umum. Perbuatan anggota ABRI dinilai positif dan sering dijadikan tauladan dan diikuti warga masyarakat. Pada dua tahun awal pelaksanaan KB di ABRI, menujukkan angka yang tidak mengecewakan, meskipun belum dapat mencapai target untuk disebut sebagai pelopor, karena kegiatan dalam bidang teknis medis kurang didampingi secara intensif oleh kegiatan sosial budaya. Semangat menyelamatkan ibu dan anak dari kematian membuat DR dr Soewardjono Surjaningrat SpOG tidak mengenal putus asa termasuk perolehan dukungan dari DR Satrio, dari Pusat Kesehatan ABRI.
Lebih mengenalkan program KB untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan di masyarakat, lobi-lobi advokasi terus digenjar, ahasil sejumlah organisasi massa yakni Pelayanan Kesehatan Umum (PKU) Muhammadyah, Wanita Partai Sarikat Islam Indonesia, Dewan Gereja Indonesia, Muslimat NU, Yayasan Kesejahteraan Katholik, World Assembly of Youth dan sudah tentu Pusat Kesehatan (Puskes) ABRI serta berbagai organisasi massa lainnya.
Melalui Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Nomor: KEP/A/580/1969 tertanggal 2 Desember 1969 LKB-ABRI semakin memperkokoh kelembagaanya yang waktu itu surat keputusan tersebut ditandatangani oleh Jendral TNI Soeharto.
LKB-ABRI menjadi lembaga yang pada pelaksanaan utamanya dari Puskes ABRI yang berkendudukan langsung dibawah Kepala Puskes ABRI. Tugas dan pokoknya mengembangkan dan merumuskan rencana kebijakan keluarga berencana ABRI sesuai dengan pedoman Lembaga Nasional.


Bagaimana menurut Anda tentang adat, seni-budaya dan norma suku Melayu? Ada sejumlah kaum itelektual yang tengah menggali pengetahuannya di Pusat Studi Melayu Divisi Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Hasanuddin Makasar mencoba menghidupkan kembali jejak Kemelayuan Nusantara.


Menurut mereka nilai-nilai unversalitas seni-budaya Melayu yang menjadi salah satu perekat suku-suku bangsa di Nusantara, termasuk dikawasan timur Indonesia, layak dihidupkan kembali untuk meredam maraknya konflik sosial belakangan ini.


Egalitarian dan humanisme yang menjadi ciri Kemelayuan telah menebar benih demokrasi dari Sabang hingga Merauke. sejak zaman Kerajaan Malaka pada tahun 1400-an. Benih-benih demokrasi tersebut terus hidup dan berkembang beberapa ratus tahun kemdian.
Mengingat kehidupan Kemelayuan yang dinilai demokrasi dan semangat menghidupkan jejak Kemelayuan Nusantara diselenggaran "Seminar Internasional dan Dialog Budaya Kemelayuan di Indonesia bagian Timur" yang dilaksanakan di Istana Tamalatea Balla Lompoa Goa pada Oktober 2008 lalu.


Seminar yang diwarnai melakukan menapak tilas ke makam Sultan Hasanuddin, Syekh Yusuf, Benteng Rotterdam dan situs-situs kultural yang telah lama terjalin. Diharapkan pijakan pada kultur lokal tak akan terkoyak ditengah arus tantangan globalisasi yang menyeret pada tingkah laku anarkis yang bermuara pada konflik dan perpecahan Nusantara.


Indonesia atau Nusantara (sebutan alternatif selain Hindia Belanda bagi kolonial Belanda sewaktu menjajah) mengklaim sebagai negara yang demokrasi perlu melihat, mengkaji dan menilai akan ragam adat, seni-budaya dari berbagai suku bangsa yang patut dijunjung dan diteladani sebagai norma nilai-nilai positif demi keutuhan bangsa ini. (KOMPAS/NET)



Sumpah Pemuda dalam ikrarnya yang sakral dalam mempersatukan bangsa delapan puluh tahun silam mengajak pemuda bangsa ini untuk menjadi pion pemersatu bangsa, dalam Sumpah ketiganya "Berbahasa Satu Bahasa Indonesia". Bahasa Indonesia yang dinobatkan sebagai alat yang kononnya mumpuni untuk mempemersatukan bangsa-bangsa tersebut seharusnya ditanam dalam kedalam kalbu sanubari. Akan tetapi, menulis dan berbicara berbahasa Indonesia bagi pemuda jaman "krisis ekonomi global" sekarang hanya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa igauan pada saat mata terpejam lelap.


Lihatlah... diberbagai kota yang menjadi bagian dari bangsa ini tersebar sepanduk, baliho, papan nama perusahaan dan berbagai atribut papan reklame lainnya hampir semua menggunakan bahasa negara lain sebagai bahan pengenal jati diri dagangan mereka. Padahal, mereka sendiri adalah warga negara bangsa ini.


Pemuda saat ini lebih takut dikatakan tidak gaul ketimbang mereka menggunakan bahasa Indonesia yang dipelajari sekolah. Bahasa prokem, bahasa yang disingkat yang gaul dan dianggap lucu menjadi bahasa banggaan mereka. Bisakah kita mengghargai pejuang dan pemikir tempo dulu dalam memperjuangkan bangsa ini untuk merdeka...?


Menilik sejarah perjalanan kesusastraan bahasa di Indonesia perlu diperhatikan bila membicarakan perkembangan sastra dari zaman klasik sastra Melayu Aceh hingga kini. Dari perkembangan bahasa Melayu Pasai inilah bahasa Melayu sekarang memperoleh bentuk sehingga kemudian tampil sebagai bahasa intelektual dan sastra yang bermartabat.


Dari bahasa ini pulalah bahasa Melayu Riau dan bahasa Indonesia yang kita pakai sampai sekarang dan sudah seharusnya berakar yang bakal menyatukan bangsa-bangsa dinegeri ini.


Bahasa Indonesia yang diharapkan menjadi kokoh sebagai terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang seutuhnya, kenyataannya bangsa ini semakin berkelompok-kelompok dengan bermunculannya gerakan separatis daerah yang ingin memisahkan diri dari bangsa ini.


Nah, bagaimana kalau kita memulai dari awal lagi, sebagai bentuk perlawanan yang mengancam perpecahan bangsa sendiri yakni berpikir untuk mengubah nama bangsa ini lebih awal.


Pemikiran untuk mengubah nama Indonesia pernah diusulkan menjadi Nusantara. Alasannya nama Nusantara lebih sesuai dibandingkan Indonesia. pemikiran ini menganut pada pemikiran jauh sebelumnya pada 1920-an, Dr. Setiabudi yang memiliki nama asli Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1979-1950) yang mempopulerkan nama untuk tanah air ini kita adalah Nusantara. Satu kata yang tak memiliki unsur kata "HIndia" (dari kata bahasa Belanda = Nederlands Indie, Hindia Belanda). Nama yang digunakan pemerintah kolonial Belanda untuk menyebut negara kita.


Tokoh tiga serangkai ini mengambil nama ini dari Pararaton, naskah kono jaman kerajaan Majapahit yang ditemukan lalu diterjemahkan JLA Brandes dan kemudian dipublikasikan dalam penerbitan.


Pemikiran tentang Nusantara yang menarik dan menonjol dari seorang kebangsaan Belanda yang perduli terhadap kemerdekaan bangsa ini berbeda dengan penertian Nusantara pada zaman Majapahit.


Pada masa Majapahit, kata Nusantara dipakai untuk menyebut pulau-pulau diluar Jawa (dalam bahasa Sansekerta "antara" berarti pulau atau seberang) untuk dioposisikan dengan Jawadwipa (Pulau Jawa). Sosok Patih pemberani seperti Gajah Mada-lah mengucapkan Sumpah "Palapa Lamun huwus kalah nusantara, Isun Amukti Palapa" (jika pulau-pulau diseberang telah kalah, saya baru menikmati istirahat). Makna kalimat yang mengandung kolonialis memancing Setiabudi mengotak-ngatik kata nusantara zaman Majapahit menjelma menjadi makna mengandung nilai-nilai murni dan norma yang luhur menuntut kebersamaan dalam kebangsaan nasionalis.


Diangkat dari makna sastra Melayu asli "antara" Setiabudi mempopulerkan makna Nusantara menjadi makna yang baru yaitu "nusa diantara dua benua dan dua samudra". Dengan demikian, Jawa memasuki defenisi nusantara yang modern. Istilah baru Dr Setiabudi ini segera menjadi populer yang digunakan sebagai alternatif nama Hindia Belanda.


Pemikiran ini pernah diangkat oleh tokoh Tiga Serangkai lainnya. Ki Hajar Dewantara. Sebagai tokoh pendiri Taman Siswa ia mempopuler istilah Nusantara dan ada pula yang menyatakan bahwa istilah Nusantara diperkenalkan oleh KI Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara sendiri menjadi anggota Partai Douwes Dekker, Indische Partij. Bersama Dr Cipto Mangunkusumo mereka dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Kemungkinan besar Nusantara adalah ide Dewanatara dan Douwes Dekker yang sejalan. (KOMPAS/NET)


Pendekar Keluarga Berencana: Ali Sadikin

Jakarta, ibu kota negara yang pernah memiliki dan merasakan dipimpin oleh seorang pejuang kemanusian yang kontroversial. Sosok yang penuh dedikasi mempelopori beberapa kebijakan nasional dialah; Letnan Jendral TNI KKO AL (Purn) H Ali Sadikin (Bang Ali) memimpin Jakarta 1966-1977 peduli terhadap perkembangan jumlah penduduk
di ibu kota Jakarta. Sejak awal ia sudah memperkirakn bakal terjadi lonjakan jumlah penduduk melalui kelahiran serta pendatang yang waktu itu menganggap Jakarta akan membawa kenikmatan hidup sebagai surga dunia meskipun musti hidup berimpitan dikampung kumuh dan berbau.

Berbagai persoalan kehidupan Jakarta nyangkut dibenak tokoh Petisi 50 ini. Himpunan
data yang dijabarkan menurut Badan PUsat Statistik 1971, periode 1961-1971 tumbuh
rata-rata 6,5 persen per tahun, terutamaakibat urbanisasi. Sementara pada 1961
jumlah penduduk baru 2,9 juta, sepuluh tahun kemudian meledak menjadi 4,6 juta.

Di tahun pertama Bang Ali menjabat sebagai Gubernur jumlah penduduk Jakarta waktu
itu telah mencapai 3,6 juta jiwa. "Pertumbuhannya sangat tinggi sehingga
dikhawatirkan terjadinya ledakan penduduk di Jakrta," kata mantan Kepala Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1983-1993 Haryono Suyono. Laju pertumbuhan
ditingkat nasional cuma dua persen waktu itu.

Fenomena kehidupan melarat di Jakarta diimbas dengan jumlah penduduk yang semakin
sulit dikendalikan, tepat setahun Presiden Soekarno melantik Ali Sadikin sebagai
Gubernur DKI Jakarta, ia mulai menggiatkan program Keluarga Berencana di kota
berlambang Tugu Monas tersebut.

Sejak tahun 1967 segala kegiatan, teknis serta anggaran daerah Jakarta mulai plot
demi tercapainya program Keluraga Berencana. Hal inilah yang mencetuskan BKKBN
untuk mentasbihkan Bang Ali sebagai Pendekar Keluarga Berencana gubernur paling
populer dalam dalam era perkembangan sejarah Kota Jakarta. Karena waktu itu ia
tidak segan-segan berkampanye untuk menggunakan alat kontrasepsi sejenis kondon dan
intrauterine device (spiral). ia, antara lain, memperagakan cara penggunaan kondom
didepan warganya.

Bukan tidak sedikit perjuangan Bang Ali yang menuai hambatan untuk melaksanakan
program Keluarga Berencana di wilayah pimpinanya. Salah satunya dari orang nomor
satu di Indonesia waktu itu Presiden Soekarno yang menginginkan jumlah penduduk
yang besar. Kendati memperoleh halangan dan tentangan dari Soekarno, Bang Ali tetap
memfokuskan program ini sebagai program pembangunan sebagai solusi salah satu
dilema kemanusian.

Jakarta menjadi proyek percontohan menjalan misi kemanusian dengan menekan laju
pertumbuhan penduduk, yang ditafsirkan mampu berimplikasi pada permasalahan sosial
lainnya. Bang Ali tetap melaju dengan program KB dan pada masa peralihan
pemerintahan ke tangan Soeharto. Soeharto, tetap membiarkan sepak terjang Bang Ali
untuk menjalankan proyek kemanusiaan ini.

Proyek percontohan di Jakarta menjadi embrio lahirnya Badan koordinasi Keluarga
Berencana Nasional pada 1970. Keluarga Berencana dingakat menjadi program nasional.
Dari sinilah Haryono Soyono menegaskan bahwa Ali Sadikin sebagai pelopor program
KB. "Dia pejabat resmi pertama yang melaksanakan program keluarga berencana di
daerahnya, tiga tahun sebelum proyek itu menjadi program kegiatan nasional," kata Haryono. (berbagai sumber/net)

Senin, 15 September 2008

Mendunianya Bahasa Melayu

Kita mengenal Melayu sebagai salah satu suku bangsa yang ada di negeri ini. Bahkan ada yang mengemukakan, Melayu merupakan ras yang ada sejak dulu kala sebelum suku lain bermunculan di negeri ini. Kajian sejarah Melayu bersependapat istilah Melayu mula-mulanya hanya sebuah sungai yang merupakan anak Sungai Jambi, ibu kota Sriwijaya setelah Palembang.
Sebutan Melayu tersebar, seperti tempat-tempat kesultanan Bintan, Singapura, Melaka, Johor, Riau, Siak dan lain-lain. Diseluruh Asia Tenggara ada tempat-tempat yang disebut Melayu besarnya persebaran tersebut banyak yang mengatakan dengan sebutan alam Melayu. Jadi Basaha, adat, kesenian, sudah menjadi fenomena yang berotonomi sendiri-sendiri dan itulah kekayaan Melayu.

Beragam Budaya Melayu, baik itu bahasa, adat istiadat, kesenian, dan sebagainya tidak saja menjadi bagian orang Melayu itu sendiri, tapi juga sudah banyak dipelajari dan diminati oleh dunia internasional.

Dari segi bahasa misalnya. Bahasa Melayu digubah menjadi bahasa persatuan Indonesia, yang dipelajari ditingkat universitas di Australia, bahkan para siswa tingkat atas (SMA) dinegeri "boomerang" tersebut mempelajari bahasa nasional bahasa Indonesia. Jadi bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu tersebut tak ubahnya dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar Internasional.

Bahasa Indonesia saat ini dipelajari diberbagai tempat kursus diberbagai negara lain. Bahkan dari 8 - 10 bahasa internasional yang dipakai dalam forum united nations (PBB), bahasa Indonesia (melayu) merupakan salah satu bahasa penyampaian dalam forum tingkat tinggi tersebut. Jadi kebesaran bangsa Melayu telah terbukti dengan adat, bahasa, dan kesenian Melayu sering dipergunakan dan dipertontonkan. (BERBAGAI SUMBER/NET)

Kamis, 11 September 2008

Sastra Melayu dan Islam

Lahirnya tradisi intelektual Islam Melayu erat kaitannya dengan perkembangan sastra di Aceh, hal ini telah banyak diketahui para sarjana dan tidak pula terjadi secara kebetulan. Banyak faktor historis yang mendukungnnya. Sastra Melayu bangkit kembali pada abad ke-13 Masehi setelah tertidurnya akibat kemunduran kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat kebudayaan Melayu Buddhis yang tenggelam akibat penyerangan dan penaklukan kerajaan Hindu Singasari dan Majapahit pada pertengahan abad ke-13 dan 14 Masehi.

Samudra Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara yang muncul pada akhir abad ke-13 Masehi berani tampil kemuka menggantikan peranan Kerajaan Sriwijaya atau Suvarnabhumi sebagai pusat kebudayaan Melayu.
Pesatnya perkembangan agama Islam dan lembaga pendidikannya disini memberikan dampak yang besar bagi perkembangan kesusastraan.

Sebulumnya berabad-abad bahasa Melayu telah berperan sebagai lingua franca di kepulauan nusantara, khususnya di dunia perdagangan. Kesusastraannya tentu saja telah juga berkembang, walaupun naskah-naskah dari abad yang silam itu tidak didapati lagi sekarang ini. Oleh karena itu bukanlah suatu kebetulan apabila bahasa ini menjadi bahasa pengantar dilembaga pendidikan Islam, dan sekaligus dijadikan bahasa penyebaran agama yang baru berkembang ini. Karena itu bukan suatu kebetulan pula apabila kegiatan penulisan sastra dan kitab keagamaan menggunakan bahasa Melayu sebagai media utamanya. Kegiatan inilah yang mengantarkan tumbuhnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Melayu baru abad-abad pertama penyebaran agama Islam di kepulauan Melayu.

Penulisan sastra di Pasai dimulai dengan penerjemahan dan penyaduran teks-teks sastra Arab dan Persia kedalam bahasa Melayu. Tulisan yang disadur kedalam bahasa Melayu meliputi hikayat kepahlawanan (epos), roman, cerita berbingkai dan kisah-kisah keagamaan seperti Hikayat para Nabi (Qisas al Abiya) dan lain sebagainya. Dari berbagai tulisan atau teks yang disadur tersebut mengundang ketertarikan tersendiri bagi sipembaca pada zaman itu. Cerita rakyat dan kisah-kisah lokal yang digubah kembali berdasarkan wawasan estetika baru dengan memberikan nuansa keislaman.

Pada akhirnya, abad ke-14 Masehi mulai ditulis pula hikayat yang lebih orisinil. Salah satunya ialah hikayat Raja-raja Pasai yang ditulis sekitar tahu 1360 M di Pasai, tidak lama setelah negeri itu bersama-sama Sriwijaya atau Suvarnabhumi ditaklutkan oleh Raja Majapahit dari Jawa yang pada waktu itu tengah berjaya atas kekuasaannya.

Rabu, 10 September 2008

Sastra Melayu Pasai Sastra Indonesia

Perlu diperhatikan bila membicarakan perkembangan sastra dari zaman klasik sastra Melayu Aceh hingga kini. Didaerah Serambi Mekkah ini, bahasa yang digunakan dalam penulisan lebih dari satu, yang paling menonjol sebagai media penulisan kreatif ialah bahasa Melayu Pasai, kemudian basaha Gayo, Alas dan Melayu Singkil. Dari perkembangan bahasa, bahasa Melayu Pasai inilah bahasa Melayu sekarang memperoleh bentuk sehingga kemudian tampil sebagai bahasa intelektual dan sastra yang bermartabat.

Dari bahasa ini pulalah bahasa Melayu Riau dan bahasa Indonesia yang kita pakai sampai sekarang dan berakar yang menyatukan bangsa-bangsa dinegeri ini.

Disamping itu kegiatan penulisan sastra Aceh terkait erat dengan perkembangan agama Islam. Sejak abad ke-13 Masehi, dengan munculnya Kerajaan Samudra Pasai (1273 - 1516 M), kegiatan penulisan sastra mulai berkembang di Aceh sebagai dampak dari kedatangandan dan pesatnya perkembangan agama Islam berikut tradisi keterpelajaran dan intelektualnya. Selain menjadi pusat penyebaran agama Islam, negeri ini juga berperan sebagai pusat kebudayaan Melayu menggatikan peranan Kerajaan Sriwijaya yang pada waktu itu mengalami kemunduran sebagai imperium dan emporium Hindu Buddhis. Bukan suatu kebentula apabila kesusastra Melayu di Aceh beriring sejalan dengan perkembangan agama Islam. Ini berlanjut pada zaman-zaman berikutnya, terutama pada masa kejayaan kesultanan Aceh Darussalam (1516 - 1700 M) dan zaman-zaman berikutnya ketika pusat-pusat kebudayaan Melayu berpindah ketempat lain seperti, Palembang, Johor Riau, Banjarmasin, Deli Langkat, Pontianak Riau Penyengat, dan lain-lain.

Merujuk latar belakang diatas yang relevan tentang pembicaraan sekarang ini tentulah kegiatan penulisan dalam bahasa Melayu. Bukan saja karena bahasa ini yang mula-mula digunakan oleh kaum cendikiawan Aceh dalam melahirkan karangan-karangan mereka dibidang keagamaan, keilmuan, dan sastra mencapai puncak keemasannya dalam abad ke-16 dan 17 M. Tetapi juga karena bahasa ini pulalah yang digunakan penulis-penulis modern di Indonesia sejak abad ke-20 dalam penucapan sastra mereka. (berbagai sumber/net)

Selasa, 09 September 2008

Silat Melayu


Bela diri dikenal sebagai seni mempertahankan diri dari serangan lawan. dahulu seseorang mempelajari bela diri dipergunakan hanya untuk diri sendiri untuk mempertahan diri dari serangan lawan. Berbeda dengan sekarang, seni bela diri menjadi cabang andalan disebuah pertandingan bertaraf internasional.

Seni silat diakui umum sebagai hak asli kepunyaan bangsa Melayu. Pengakuan hak tersebut dibuktikan dengan penemuan yang tertoreh pada candi Borobudur dan Prambanan. Wujud sistim seni silat dikepulauan Melayu bermula pada abad ke-8 Masehi, bermula dari Kepulauan Riau, seni silat Melayu ini mengalir hingga ke Minangkabau Sumatera Barat.

Perkembangan silat di Sumatera lebih diperhalus dengan sebutan pencak silat. Seni bela diri ini pernah dipergunakan oleh kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 hingga abad ke-14) guna memperluas kekuasaan. Tidak hanya Sriwijaya yang mengandalkan silat sebagai salah sistim memperluas kekuasaannya. Majapahit (abad ke-13 hingga abad ke-16), ilmu silat diklaim telah memcapai puncak kesempurnaan apabila penggunaan senjata disertakan.

Bermula dari daratan Semenanjung Tanah Melayu melalui Melaka silat mulai diperkenalkan di Minangkabau. Pada zaman kesultanan Melayu Melaka, hanya golongan yang rapat dengan istana sahaja yang diberikan peluang untuk mempelajari silat. Pada akhirnya seni silat ini diketahui oleh rakyat biasa dipelajari dan dipertahankan hingga sampai detik ini.

Laksmana Hang TUah (Bapa Persilayan Melayu) mempelajari seni silat Melayu dari pada Sang Adi Putera di Gunung Ledang dan Sang Persanta Nala di Pulau Jawa.

Sejak zaman Kesultanan Melayu Melaka, silat Seni Gayong dikatakan telah berwujud yaitu sewaktu pemerintahan Sultan Mansir Syah. Selpas kejatuhan Melaka ketangan Feringgi (Portugis) pada tahun 1511, hulubalang-hulubalang Melaka yang diketuai oleh Tun Biajid (anak Laksmana Hang Tuah) telah berundur kedalam hutan dan seterusnya melakukan serangan gerilya terhadap kolonial Portugis.

Keahliannya memiliki ilmu Silat Gayong ini para hulubalang yang dipimpinpin Tun Biajid pada masa itu menjadi kepercayaan diri meskipun mereka harus mengungsi kehutan namun gerilya perlawanan terhadap Portugis mereka berpegang kepada tekad yang berkobar yaitu berimau-rimau, berimba-berimba dan bergayong.

Perlawanan yang sengit antara serdadu kolonial Portugis dan para hulubalang Tun Biajid menyebabkan Tun Biajid memerintahkan orang-orangnya ke negeri Pahang, untuk mencari perlidungan. Disniliah Silat terus diwariskan kegenarasi-generasi sehinggalah sampailah ke tangan uan Syed Zainal Al Attas, yaitu seorang hulubalang Pahang yang hidup sezaman dengan Dato' Bahaman Mat Kilau.

Ada suatu kisah yang menceritakan bahwa pada zaman pemerintahan Portugis di Melaka, telah diadakan majelis keramaian tiap tahun dihadiri segenap lapisan masyarakat. Pada waktu Pemerintah Portugis mengadakan suatu pertandingan persembahan seni budaya masyarakat setempat dan memberikan ganjaran yang besar pada pemenangnnya. Tontonan silat yang dipersembahkan merupakan silat Pulut yang diiringi bunyi-bunyian dari gendang yang ditaluh.

Berbeda dengan mereka para pesilat yang dianggap melawan kolonial Portugis tidak akan disertakan justru mereka dianggap berbahaya kemudian diasing menggunakan perahu dibawa ketengah laut untuk kemudian dibunuh. Kebimbangan Portugis menjadi alasan bagi bangsa penjajah tersebut melakukan pembantaian.

Pada saat hulubalang yang menetang hendak dibunuh ditengah laut, atas kuasa dan kehendak Tuhan YME dan keahliannya memperagakan silat Gayong, rantai yang mengikat hulubalang-hulubalang Melaka itu berhasil diputuskan akhirnya terjadi perlawanan ditas perahu antara para hulubalang Melaka yang hendak dibunuh dengan serdadu Portugis. Kemenangan ada pihak para hulungbalang yang mumpuni.

Rasa kekhawatiran terhadap keselamatan bila kembali ke Melaka, sejumlah hulubalang tersebut memutuskan untuk melanjutkan perlawanan dengan cara berlayar keberbagai pelosok negeri Melayu untuk mencari perlindungan sambil menyusun kekuatan.

Setengah para hulubalang yang berlayar tadi pada akhirnya memutuskan untuk menetap di Makasar. Disinilah mereka menyebarkan ajaran silat seni Gayong dikalangan bangsa Bugis. Dari orang-orang Bugis inilah mereka mempertahankan seni silat Gayong di tanah Sulawesi. (berbagai sumber/net)

Pulau Jemaja merupakan gugusan pulau yang terbentang luas diantara ribuan pulau yang menjadi teritorial Provinsi Kepulauan Riau. Semenjak diputuskannya ketetapan pemerintah mengenai pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas, Jemaja resmi dipersunting menjadi milik Kabupaten Kepulauan Anambas

Rencana pemerintah Provinsi Kepri bersama peran para tokoh pembentukan Kabupaten kepulauan Anambas berencana menjadi kepulauan Jemaja sebagai Ibukota Kabupaten yang ke-7 di Provinsi Kepri.

Pulau yang terletak disebelah utara gugusan Kepulauan Riau ini memiliki kisah yang menarik dibalik nama yang membesarkannya, disamping budaya klasik Melayu yang melekat menjadi jati diri masyarakat disana.

Berdasarkan etimologi, singkatan kata Pulau Jemaja merupakan kepanjangan dari Jemaah Raja-Raja. Yang pada waktu itu merupakan homestay atau basis pertahanan dan pengembangan bagi raja-raja lanun (bajak laut).

Pada waktu itu, raja lanun yang memiliki hubungan erat dengan para Batin (raja) Kerajaan Riau Lingga acap kali mengunjungi para raja lanun, untuk membahas pelbagai hal untuk mempertahankan daerah kekuasaanya, karena para raja-raja ini memahami betul akan kekuatan bala tentaranya masing-masing. Dan pada akhirnya mereka (batin kerajaan Riau Lingga) memutuskan untuk berkoalisi dengan para raja lanun.

Keputusan berkoalisi tersebut selain menjaga kekuasaan wilayah masing-masing, raja lanun bersama pasukannya memang lihai dalam mengarungi lautan. Buktinya mereka (lanun) selalu berhasil menjegat kemudian membajak setiap kapal asing yang masuk kedaerahnya untuk dirampas harta benda yang dibawa kapal berbendera asing itu. Koalisi ini meminta kepada raja lanun untuk tidak membajak setiap yang berbendera Kerajaan Riau Lingga.

Dengan seringnnya mereka bertemu dan berkumpul guna menjaga keeratan dan keakraban diantara mereka, merekapun menetapkan setiap mengadakan pertemuan dipulau Jemaja. Nah, Sejak dari itulah pulau yang memiliki luas kurang lebih 541 ribu kilometer persegi dinamakan pulau 'Jemaah Raja-Raja' atau yang disingkat dengan pulau Jemaja.

Cerita masyarakat disana menjelaskan bahwa peninggalan harta raja lanun masih banyak terpendam di Pulau Jemaja saat ini. Bahkan menurut pengakuan sudah ada beberapa penemuan barang-barang antik dan berbagai logam mulia seperti emas murni.

Bagamaimana adakah yang tertarik untuk berburu harta karun dipulau yang sempat menjadi tempat penampungan warga vietnam pada tahun 1976 ini? (berbagai sumber)

Selasa, 02 September 2008

Si Tuapun Wajib Bisa

"Sakit kepala," hampir semua peserta pelatihan desiminasi program aplikasi menyatakan hal demikian. Emang sih kalau hidup diera kompeterisasi mau ndak mau kita harus mengikuti tren teknologi. Lagian faktanya kecanggihan teknologi berupa kompeterisasi sangat membantu sekaligus mempermudah pekerjaan misalnya jarak udah gak menjadi batasan, berita segera tersampaikan dan terjawabs serta informasi dunia bisa diperoleh hanya dengan sekali klik.

Nah masalahnya, sakit kepalanya ini. Otak bagian belakang rasanya cenat-cenut gelinyeng oleh materi yang harus tersimpan baik disel otak. Karena, file itu sekembalinya kami kedaerah harus dibuka kembali untuk dapat diaplikasi oleh orang seluruh kantor yang ada didaerah.

Perserta Pelatihan Desiminasi Program Aplikasi mengundang perwakilan dari seluruh kanwil provinsi yang ada di Indonesia. Bermacam karakter pendidikan dan kelompok usia menjadi duta yang diharapkan. Ini perintah untuk mengikutinya, namun ada sih yang berkomentar mengikuti kegiatan ini hanya sekedar mengejar uang saku dari panitia.

Tapi yang menjadi keluhan dan gerutu dalam pelatihan ini adalah mereka-mereka dari kelompok usia tua dan latar belakang pendidikan yang berbeda. Misalnya si tua. Ia hidup dijaman yang waktu itu popularitas mesin tik yang masih dikursuskan, sedangkan latar belakang pendidikan seperti sarjana psikolog, ia mengaku tidak ada matakuliah kompeterisasi apa lagi mengenai jaringan. Tapi tidak ada satupun dari kami yang menyalahi aturan kebijakan atasan untuk mengikuti perkembangan teknologi, justru kami ikut sepakat dengan tren teknologi komputer yang digulirkan saat ini.

Malam kedua setelah sepulangnya kami mengikuti pelatihan, kami kembali kepenginapan yang disediakan panitia. Waktu itu tanpa direncana kamar hotel nomor 232 dalam sekejap menjadi sarang nyamuk yang masuk dari jendela yang sengaja dibuka. Sebenarnya kami membuka jendela itu bermaksud mengusir asap rokok yang memenuhi ruangan.
Kotornya kamar hotel itu sebenarnya pelakunya hanya lima orang kesemunya memang peserta yang tengah asiknya ngumpul dan mengobrol tentang daerah masing-masing sampai akhirnya kami mengeluh atas ketidakmampuan otak kami untuk memahami kesempurnaan perangkat komputer.

Kami yang cuma berlima sudah mewakili karakter pendidikan dan kelompok usia. Bapak dari Provinsi Sumatera Utara misalnya ia memiliki ornamen usia yang dua tahun lagi ia akan menutup bukunya sebagai PNS. Emangsih dari sisi fisik bapak yang satu ini masih kelihatan tangguh sebagai PNS namun kodratnya itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk bertarung dengan kemajuan teknologi seperti yang saat ini dipelajarinya.

"Aiiih, sakit kepala ngederin materi tadi. Aku kurang negerti yang disampaikan, apa pembicara ngajarinya terlalu cepat atau aku goblok," ujar bapak dari Sumut sambil menggelengkan kepala. "Aku copy ya, materi yang kamu simpan dilaptopmu," kata lanjutannya setelah ia ditawari untuk mengcopy materi yang ditawarkan.

"Ini harus dipahami neh, entar kalau ditanya atasan kalau gak bisa, gawat". Kami semua meamini komentar barusan. Artinya si tua dan si masalah pendidikan yang berbeda harus mengerti. Tapi sebenarnya kami bertanya-tanya sebenarnya daerah mengutus kami ini apakah sudah benar dan terseleksi dengan kamampuan yang kami miliki, atau jangan-jangan memang gak ada orang lagi yang sebenarnya lebih layik untuk mengikuti pelatihan kali ini.

Emang sih, sebenarnya komputer itu harus dimengerti oleh seluruh tamatan disiplin ilmu apapun, tapi bolehkan kami mengemukakan alasan tentang ilmu yang dipelajari dan diberikan kekami mengenai teknis jaringan komputer bukan hanya sekedar mengoperasikannya saja. Kami harus mengetahui kalau jaringan komputer yang dibangun mengalami trouble.
Jujur saja, hampir semua dari kami kurang mengerti materi pelatihan yang disampaikan. Memang tidak semua sih dari seluruh peserta yang tidak mengerti, terutama para klen usia tua dan latar belakang masalah pendidikan yang sulit untuk menerima masuk materi komputerisasi kedalam sel membran otak ini.

Ya.. sejata kami paling akhir berharap bos mau mengerti akan kekurangan dan ketidak kemampuan kami. Mungkin menjadi harapan yang gak pupus selama kami masih bekerja dibidang yang menuntut kemajuan teknologi.

Rabu, 06 Agustus 2008

Dipaksa Menerima dan Berbuat

Pagi, 22 Juli 2008. Pagi yang membuat semua peserta berpikir, menebak kira-kira apa yang bakal dikerjakan dan apa yang bakal terjadi selama dua minggu kedepan. Mungkin kebosanan, ngantuk, letih dan bahkan menderita batin maupun fisik bakal kami rasakan. Ternyata khayalan itu benar-benar terwujud dan tidak sulit untuk ditebak, karena sebelum kami dipertemukan dan dikumpulkan kami udah duluan mendapat wejangan dari para senior kami maupun pimpinan dari masing-masing provinsi tempat kami berkerja.

Kami yang tergabung dalam 68 peserta dari 21 provinsi se-Indonesia yang patut dibanggakan dan menyenangkan sebenarnya adalah kesempatan berkenalan kawan-kawan dari sabang - merauke. Hanya sebatas itu, tidak lebih dan tidak kurang.

Pada dasarnya, lembaga mengumpulkan kami untuk mengikuti Diklat Prajabatan calon PNS dari 22 Juli sampai 2 Agustus 2008. Seperti biasa, hanya pendidikan dan pelatihan pembangunan kepribadian seorang sebagai abdi negara yang taat kepada negara dan pelayan masyarakat.

Sebenarnya kegiatan tersebut merupakan kegiatan wajib bagi calon PNS, tapi entah kenapa malam selepas perpisahan, kami sekumpulan orang-orang (peserta) merasa tidak puas dengan hasil pelatihan, pendidikan yang kami peroleh dan kami sependapat pendidikan tersebut hanya formalitas belaka, hanya untuk merubah status dari calon PNS menjadi PNS 100 persen.
Berharap menjadi PNS "bersih"...! rasanya pesimis deh. Masalahnya bukan apa. Kami yang masih muda dan tidak tahu apa-apa harus berhadapan dengan berbagai tipu muslihat dan dipaksa harus ikut bersekongkol dengan orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dengan fasilitas yang dimiliki.

Obrolan semakin menarik dan semakin larut. Mumpung ini malam terakhir kami berkumpul dan entah kapan dapat bertemu dan kumpul kembali, karena besok sebagian besar dari kami harus segera kembali kedaerah masing-masing.

Pembahasan kami mulai dari materi pembelajaran. Ada 14 materi dan hampir kesemua materi yang disampaikan berbobot dan benar-benar wajib dipelajari dan dipahami. Sebenarya bukan hanya memahami saja, tetapi harus benar-benar diterapkan selama kami masih berstatus PNS. Ada salah satu teman pembicaraan kami berucap "andaikan kewajiban dan larangan PNS benar-benar dipraktekkan oleh seluruh PNS di negeri ini ya...!"

Andaikan juga jiwa-jiwa dan sikap yang baik itu tidak pernah memudar bahkan pupus. Ibarat batu karang yang tidak perduli dengan sekelilingnya yang menghajar telak terus menerus dengan gulungan ombaknya atau tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya yang terkadang menenggelamkannya dan menimbulkannya kepermukaan. Mungkin seiring perjalanan waktu dan keterampilan bersubahat jahat dengan jam terbang yang tinggi didukung dengan lingkungan bisa berubah sikap dan jiwa itu. Semoga kawan-kawan semasa Diklat Prajabatan di Bandung tidak setuju dengan pernyataan pesimis seperti ini. Amin.

Obrolan semakin menarik, dan entah berapa batang puntung rokok disertai abu mengotori lantai, padahal jelas beberapa tong sampah tersediakan oleh panitia. Sebenarnya kami sudah dijelaskan dan harus mengikuti peraturan untuk turut menjaga kebersihan lingkungan asrama karena dari situ kata panitia ada poin tersediri penilaian untuk kelulusan Diklat Prajabatan.
Kami sadar udah berbuat sesuatu yang melanggar peraturan. Tapi malam itu kami sepakat untuk berbuat malanggar peraturan, toh malam ini tidak ada lagi penilaian karena pengumuman kelulusan sudah diproklamirkan didepan deputi. Keputusan itu tidak akan merubah kelulusan gara-gara malam ini kami mengotori lantai asrama.

Obyektif, kalimat yang tidak sulit untuk dilapaskan tapi tidak semudah untuk dijinakkan karena seharusnya manusia bisa melihat dari berbagai sudut pandang yang relevan akan tetapi manusia sekarang hanya mau berpikir instan alias tidak mau repot. Karena hasilnya nantitidak ada manfaat untuk dirinya, padahal nasib orang lain saat itu ada ditangannya.

Hal ini yang kami rasakan kekecewaan dan ketidakpuasan yang sangat mendalam karena ikhtiar yang kami lakukan selama dua minggu ini hanya menjadi sia-sia belaka. Sebagai wahana pendidikan dan pengembangan SDM tempat kami berlatih dan didik tidak mampu memberikan kepuasan yang obyektif. Padalah hampir semua penyaji materi (widyaiswara) menuturkan kata-kata bijak mengalun lambat agar murid-muridnya mudah mengerti dan memahami.

Terus terang kami berterima kasih banget kepada seluruh widyaiswara yang sudah mau direpotion dengan berbagai pertanyaan dan tentunya sebagai murid yang baik, kami berusaha akan patuh. Mulailah sang guru mentransfer ilmunya dengan pengalamanya yang kebetulan duluan dihidupkan Tuhan kepada kami 68 muridnya.

Tapi... lagi-lagi sekumpulan pria tadi yang tengah asik ngobrol merasa pesimis jurus yang diberikan tidak akan ampuh menangkis setiap serangan lawan yang mengkeroyok abis-abisan, mendorong hingga kami tersudut dan terpojokkan dan bahkan harus terdamparkan. Ahhh...masa harus seperti ini. Pesan, Pilihlah secara bijak...! Wahai kawan-kawanku sekalian. Baik jadi diri sendiri ketimbang kita musti menjadi orang "gila". he-he.he.

"Bosan ah, kita cari topik obrolan lain aja," kalimat ini yang mengakhiri pembicaraan yang sok dewasa. Akhirnya pembicaraan diubah ketingkat yang lebih mementingkan kejujuran kami masing-masing yakni wanita yang dikagumi selama mengikuti Diklat Prajabatan. Ho.ho.hoo ternyata anugrah Tuhan menganai perasaan luar biasa. Dan ini menjadi rahasia kami.

Buat temen-temenDiklat Prajab Gol III
Bandung 22 Juli s/d 3 Agustus 2008
Khususnya Barak I

Perubahan jumlah penduduk miskin di Provinsi Kepulauan Riau dari tahun sebelumnya ke tahun ini belum berubah jauh. Meski menunjukkan angka penurunan, tapi baru satu persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri mengolah data pada survei Maret 2008 lalu, tercatat sekitar 136,4 ribu jiwa atau sekitar 9,18 persen dari total jumlah penduduk Kepri yang tercatat pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kepri berjumlah 1,5 juta jiwa.

Namun survei yang dilakukan BPS Provinsi Kepri sebelum diumumkan pemerintah menaikan harga BBM. Banyak kalangan menilai angka kemiskinan sebenarnya kondisi saat ini bisa dipastikan berubah naik, kalau survei dilakukan sesudah kenaikan harga BBM.

Meski menunjukkan angka masih diatas 100 ribuan orang, tetapi berdasarkan data BPS sebenarnya angka penduduk miskin pada Maret lalu turun dibanding Maret 2007. Pada Maret 2007, angka kemiskinan sejumlah 148,4 ribu jiwa, atau sekitar 10,30 persen dari total penduduk Kepri yakni 1,3 juta jiwa.

Penurunan terjadi paling dominan di daerah perkotaan, yakni sejumlah 7,6 persen jiwa. Sementara dipedasaan, hanya turun 4,5 ribu jiwa. Persentase penduduk miskin di kota sendiri turun dari 10,08 persen manjadi 8,81 persen. Di pedesaan turun dari 10,54 persen manjadi 9,60 persen.

Jumat, 27 Juni 2008

Robby Mantenan



Buat pa' rooby. Selamat menempuh kenikmatan baru.

Siapapun yang terlahir dinegeri bumi melayu pastinya akan bangga menjadi budak melayu

Senin, 16 Juni 2008

Aladin

Aladin disini bukan ninaian bobo yang berasal dari negeri seribu satu dongeng yang mengkisahkan seorang bujang mencitai seorang putri raja. Aladin kali ini, tidak lain adalah benda wujud yang setiap hari kita pandang dengan pandangan yang terbatas, kita injak dengan sepatu yang terkadang terkena najis, dan terkadang kita coret-moret dengan sentuhan tangan jahil.

Aladin yang setiap hari kita jumpai ini merupakan tempat kita berteduh dan orang sering bilang hanya saksi bisu yang tanpa bisa bersaksi dan takkan mungkin berteriak. Selamanya akan tetap diam. Aladin diciptakan berkat tangan-tangan ahli yang udah kapalan dan kasar. Aladin juga bisa membunuh kita karena sang pencipta Aladin menciptakannya menjadi sosok yang kokoh dan angkuh kalau ia berdirik tegak besar menjulang. Tapi.

Bagi kaum birokrasi, Aladin sering dijadikan indikator untuk menilai mereka-mereka (baca: orang) yang melarat hidupnya. Bagi borjuis Aladin dibuat sebagus mungkin dan senyaman mungkin dan harus bisa menjadi bahan bangga-banggaan. Bagi koruptor Aladin dijadikan objek yang bisa menumpuk pundi-pundi celengannya. Bagi aparat Aladin mungkin senjata paling ampuh untuk menginsafkan para pelaku yang merugikan masyarakat.

Tapi, bagi sebagian orang Aladin terkadang membuat orang bisa menjadi letih-lesu padahal seharian kita tidak melakukan aktifitas yang melelahkan akibat kejenuhan kita yang dikukung sosok Aladin tanpa bisa bergerak sedikitpun.