Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Untuk duel yang satu ini, Pemerintah Kota Tanjungpinang sangat mendukung, bahkan bagi sipemenang dari duel tersebut akan mendapatkan hadiah. Pertarungan yang dilaksanakan pada 22 – 28 Oktober akan melibatkan seluruh pelajar yang ada di Tanjungpinang, mengingat duel ini sangat penting karena pelajar di negeri kota Pantun : Tanjungpinang harus mengenal lebih dalam karya sastra hebat melayu berupa pantun ini.
Menurut panitia, pantun harus dibudidayakan diseluruh lapisan kalangan masyarakat, mengingat dengan pantun penyampaian maksud dan kehendak terkesan akan lebih santun, sekalipun penyampaian tersebut sifatnya menyindir atau mengkritisi.
Semenjak Tanjungpinang ditetapkan sebagai kota pantun, Walikota Tanjungpinang, Suryatati A Manan menginginkan agenda ini rutin diselenggarakan, terutama dikalangan pemuda Tanjungpinang. Pagelaran yang dilaksanakan di SMU Negeri 2 Tanjungpinang ini bersempena dengan Bulan Bahasa dengan kegiatan bertemakan “Menyelami Dunia Sastra Lewat Pantun”.
Hal tersebut disampaikan Ketua Panitia pelaksana, Tusiran Suseno usai menjabarkan agenda kegiatan bulan bahasa yang digelar Pemko Tanjungpinang. Ia juga menjelaskan pelaksanaan adu pantun ini dilaksankan di SMU Negeri 2 Tanjungpinang, karena sekolah ini satu-satunya yang memiliki fasilitas gedung bahasa.
Seirama dengan keinginan Walikota Tanjungpinang, Tusiran akan terus mensosilasikan penggunaan pantun sebagai penyampaian maksud dengan tidak mengurangi makna yang sebernanya, karena pantun akan menjadi sastra penyampain yang saat santun.
Persiapan peserta dalam duel pantun kali ini dipastikan sudah memiliki persiapan yang matang, karena sastra pantun di hampir setiap sekolah sudah menjadi muatan lokal pelajaran.
Menurutnya, ini merupakan langkah yang baik dalam upaya mempertahakan dan pengembangan budaya sastra melayu. Agar generasi muda saat ini bisa lebih mencitai sastra Melayu yang membesarkan nama budaya Melayu. “Saat ini kebiasaan penyampaian pantun memang selalu dibacakan disetiap kegiatan seremoni. Namun, acapkali pembicaran/percakapan sehari-hari kita tidak diselingi dengan kosakata yang tersusun santun dan berurut seperti pantun. Hendaknya bisa dibiasakan agar masyarakat lebih cinta dan bangga dengan penggunaan sastra Melayu ini,” kata Tusiran, yang sedikit mejabarkan agenda perlombaan yang akan ikut turut dilaksanaka yakni, cerdas cermat pantun, peraduan pantun, pembacaan puisi serta workshop. (PM/berbagai sumber)


Kampung Damnah, disinilah tapak keberadaan Istana Damnah yang masih tersisa, salah satu diantara keberadaan yang paling berharga sepajang sejarah Kesultanan Riau Lingga. Istana Damnah merupakan bekas tapak kerajaan yang masih tersisa dan terlihat, meski jejak itu hanya menyisakan anak tangga muka istana dan tiang-tiang dari sebahagian tembok yang pernah menompang dan berdiri tegak.
Kondisi sekarang Anda hanya bisa menjumpai beberapa puing tersebut, sisanya lenyap dimakan waktu sesuai dengan keberadaan Kesultanan Riau Lingga. Sekarang sisa puing istana ini terletak di hutan yang disebut dengan kampung Damnah, Daik-Lingga.
Istana Damnah yang dibangun pada tahun 1860 oleh Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, yang Dipertuan Muda Riau X (1857-1899) merupakan tempat kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II, dimana sebelumnya kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II di Istana Kota Baru yang tidak berjauhan dari pabrik sagu yang didirikannya.
Sejak otonomi daerah, pemerintah setempat mulai memperhatikan keberdaan situs sejarah ini, dengan jalan membangun replika Istana Damnah, yang dibangun berdasarkan riset para arkeolog, budayawan serta pihak-pihak terkait, guna pencapai pembangunan sesuai dengan wujud aslinya. Kini replika tersebut menjadi salah satu objek wisata sejarah yang sewaktu-waktu bisa dikunjungi para wisatawan.
Keaslian atau sisa Istana Damnah yang sesungguhnya dibiarkan semula jadi, namun pembangunan replika Istana Damnah dibangun secara terpisah di kota Daik. Daik pernah menjadi menjadi pusat pemerintahan kerajaan Riau-Lingga dan sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Lingga. Untuk mencapai Kota Daik yang terletak di Sungai Daik, hanya dapat dilalui dengan perahu di waktu air pasang. Karena di waktu terjadinya air surut, Sungai Daik akan mengering dan hal ini menyebabkan akan sulit untuk menuju Kota Daik. Perkembangan pilihan transportasi sekarang bisa dilalui dengan jalan darat dengan cara melalui sungai itu terus kemuara (Pancur) yang terletak di pantai utara pulau Lingga, berseberangan dengan Pulau Senayang.
Jemaja, Kepulauan Anambas. Dulu, pulau tersebut menjadi rahasia pribadi atau tempat persembunyian para lanun (bajak laut). Selain tempat persembuyian, ternyata pulau tersebut dijadikan tempat penyimpan harta rampasan dari setiap kapal dagang yang melalui perairan laut Cina Selatan.
Ternyata kebiasaan lanun tidak semuanya menyimpan harta rampasannya di dasar laut. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya tempat penyimpanan harta di pesisir pantai Pulau Jemaja. Penemuan tempat penyimpanan harta tersebut merupakan hasil tim ekspedisi Komando Pengendalian (Kodal) I yang melakukan kunjungan pengawasan tepatnya di pesisir Pantai Pusik, Pulau Jemaja bagian barat.
Penemuan bukti sejarah tersebut terungkap atas ketidaksengajaan pada saat kondisi air laut sedang surut. Hal itu diketahui setelah menemukan sebuah bekas lubang galian yang selama ini tertutup pada saat kondisi air laut sedang pasang.
Setelah memastikan dari dekat, tim menemukan sejumlah pencahan keramik bermotif Cina kuno. Pecahannya keramik yang ditemukan tidak terlalu kecil, seukuran tiga perempat dari ukuran aslinya. Seluruh penemuan dan pecahan dari keramik dikumpulkan dan tim ekspedisi Kodal I membawa dua buah pecahan keramik sebagai contoh yang akan diserahkan kepada arkeolog. Penyerahan tersebut guna menggungkap umur serta asal dari keramik-keramik tersebut.
Penemuan keramik kuno di pantai Pesik tersebut bukan merupakan penumuan yang pertama kali. Penduduk tempatan sering menggali pasir pantai untuk mendapatkan keramik kuno, dan hasil penemuan mereka kebanyakan dijual kepada peminat yang ingin memilikinya.
Jemaja, pulau yang memiliki luas kurang lebih 541 ribu kilometer persegi ini menyimpan eksotik keindahan alam serta kemisteriusan pulaunya sesuai dengan namanya yang diartikan secara etimologi merupakan “Jemaah Raja-Raja”.(KM/berbagai sumber)

Ceritanya saat itu hiduplah sebuah keluarga kecil dan melarat, yang kesehariannya mengarungi lautan sebagai objek andalannya untuk memperoleh ragam kebutuhan hidupnya. Sebagai kepala keluarga ia berprofesi sebagai nelayan harus berjuang ditengah pertemuan arus laut dan hantaman gelombang deras, belum lagi nasibnya yang harus bertarung dengan kondisi alam yang sulit ditebak.
Persis kehidupan yang dilakoninya saat ini. Bagaikan berdiri diatas geladak kapal nelayan yang tidak pernah diam akibat gelombang laut. Belum lagi musim angin utara, kebanyakan nelayan tidak berani melaut karena cuaca alam yang tidak bersahabat, alahasil ini akan mengurangi pendapatan dari kebiasaannya melaut.
Sebagai nelayan kecil, ia yang dilakoni sebagai “Tok kadir” harus memenuhi semua kebutuhan 5 orang anaknya. Sebenarnya, kalau Tok Kadir memiliki perencanaan dalam mengatur jumlah kelahiran, mungkin kehidupannya sebagai nelayan tidak akan sulit yang sekarang ia rasakan. Tidak musti dikejar-kejar rentenir dan tukang kridit karena terlilit utang demi memenuhi semua kebutuhanya. Bisa dibayangkan-kan kehidupan Tok Kadir?
Kehidupan sulit Tok Kadir tersebut diperankan sejumlah siswa sekolah dasar Tanjung Sebauk, Senggarang dan penampilan kelompok seni celoteh Budak Sebauk dari Senggarang, Tanjungpinang memetaskan teater berdurasi kurang lebih 15 menit di Lampung.
Pagelaran seni budaya yang diadakan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat pada Kamis (1/10) malam menampilkan 33 provinsi sebagai peserta, dan penilaian dewan juri lebih memfokuskan pada pesan yang dibawa dari atraksi seni budaya itu sendiri.
Menurut sumber harian media lokal, penampilan yang disuguhkan kelompok seni Celoteh Budak Sebauk mampu menampilkan, penampilan yang memesona para penonton yang hadir termasuk sejumlah kepala daerah yang hadir dari seluruh Indonesia dan para pejabat BKKBN pusat dan daerah.
Seni atraksi dari perwakilan Provinsi Kepulauan Riau ini sungguh berbeda, karena umumnya peserta yang disertakan dalam perlombaan tersebut adalah mereka para orang dewasa, yang harus bersaing dengan dengan sejumlah anak-anak pelajar sekolah dasar.
Pada kesempatan tersebut Walikota Tanjungpinang, Hj Suryatati A Manan memperoleh kesempatan menunjukkan kebolehan yakni membaca puisi yang menyampaikan amanah dan pesan-pesan keluarga berencana. Puisi yang cerdas menggambarkan bahwa saat ini paradigma KB seolah-olah hanya kewajiban kaum perempuan saja, begitu seterusnya, sangat menyentil dengan bahasa dan aksen melayu yang mudah dipahami.
Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Tanjungpinang, Drs Surjadi MT, mengatakan, penampilan kelompok seni Celoteh Budak Sebauk dan ibu walikota Suryatati mendapat apresiasi yang meriah dari seluruh hadirin yang hadir. "malam itu akan menjadi permulaan yang hebat bagi murid SD tersebut untuk terus membangun talentanya dalam dunia seni," ujar Surjadi. (berbagai sumber)
Bisa dikatakan pantun merupakan kesenian yang kian terpinggirkan dan secara perlahan mulai tergerus zaman. Padahal banyak cara untuk menyelamatkan karya satra khas Melayu ini. Salah satunya dengan menggelar opera pantun yang berlangsung di Jakarta belum lama ini. Dengan sajian pantun bergaya baru, penonton tidak akan bosan menikmati seni yang sarat akan nasehat.
Salah satu bait pantun yang didendangkan dalam rangkaian opera pantun adalah karya Rizal Nur. Sastrawan Melayu yang aktif melestarikan pantun di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ini sengaja mengemas pantun secara berbeda. Opera pantun sebenarnya sebuah rangkaian pantun dalam jalinan cerita. Cara ini dibuat supaya penonton tidak bosan menyimak isi pantun tanpa kehilangan maknanya.
Ada beragam bentuk pantun yang tersebar dalam budaya masyarakat Melayu. Antara lain pantun percintaan, pantun mantra, pantun menidurkan anak, hingga pantun perkawinan. Semua pantun tersebut memiliki kesamaan, yaitu sarat akan nasehat dan berkaitan erat dengan unsur agama Islam meski diucapkan dalam suasana yang berbeda-beda.
Upaya melestarikan budaya pantun sudah seharusnya digalakkan, bersamaan pagelaran tersebut bertempat di Taman Ismail Marzuki (TMI), Jakarta, selasa 30 April 2008 sekolompok budayawan dan sastrawan Tanjungpinang menampilkan opera pantun yang mampu memesona penonton dalam penyuguhan yang aktraktif dan kreatif.
Selain menampilkan permainan opera pantun, rencana pencanangan ditandai dengan ikrar bersama Yayasan Panggung Melayu (PM) dan budaya Melayu se-Asia Tenggara, menetapkan Kota Gurindam, Tanjungpinang sebagai Negeri Pantun.
Tanjungpinang secara historis memiliki perkembangan kesusastraan yang menawan dan sangat pantut dikenang dan dikembangkan. Alasan ini yang menjadi dasar kenapa Kota Tanjungpinang ditetapkan sebagai negeri sastra pantun, demikian yang disampaikan Pimpinan Yayasan Panggung Melayu Rizal Nur.
”Pantun, di negeri pantun (Tanjungpinang) merupakan sebuah karya sastra lisan melayu yang secara turun-temurun sudah dikenal dengan kebiasaan masyarakatnya yang menggunakan pantun sebagai dasar komunikasi dalam menyampaikan maksud dan kehendak, budaya tersebut terbawa pada era saat ini, contohnya setiap pembukaan maupun penutupan kegiatan selalu dimulai dan diakhiri dengan pantun,” jelas Rizal Nur. (liputan6.com/btmtoday)







