Jumat, 14 Mei 2010

Akui Kesalahan


Abi Hurairah Ra. berkata, telah bersabda Rasulullah Saw, "barang siapa pernah
melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta dihalalkan dirinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (kelak) Jika dia memiliki amal saleh, akan diambil dirinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudaranya (yang didzalimi) kemudian dibebankan kepadanya." (HR. Al-Bukhari).

Kita dianjurkan untuk memiliki sikap keberanian mengakui kesalahan dan meminta maaf
atas kesalahan yang telah diperbuat. Dalam hadist diatas, Rasulullah Saw. Memerintahkan "Barang siapa yang pernah melakukan kedzaliman terhadap saudara baik
menyangkut kehormatannya, maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta
dihalalkan darinya hari ini, sebelum mata uang tidak berguna lagi (hari kiamat)."

Kedzaliman tidak hanya dilakukan oleh seorang penguasa kepada rakyatnya atau seorang
pemimpin kepada bawahannya. Setiap orang memiliki celah untuk melakukan kedzaliman
kepada sesamanya. Kedzaliman dapat dilakukan oleh tangan dan lidah kita sendiri. Dari kata-kata yang menyakitkan, menistakan, memprovokasi, dan mengklaim yang hanya
dirinya paling berjasa (menganggap orang lain tidak memiliki kebaikan) adalah semua
sifat yang bisa mendzalimi. Tangan yang menyengsarakan, sengaja menghilangkan hak
orang muslim atau sesama umat lainnya adalah hal yang telah menistakan seharunya yang musti sudah menjadi haknya.

Muslim sejati, selalu memikirkan setiap langkah dari kedua kaki, kedua tangan dan
perbuatan serta ucapan yang sekiranya dapat menyakiti perasan bahkan fisik antar
sesama umat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. "Orang muslim (sejati) adalah orang
yang orang-orang muslim lainya selamat dari (gangguan) lidah dan tangannya."
(HR.Bukhari dan Muslim).

"Manusia bukanlah Malaikat". Siapapun bisa melakukan kesalahan kepada sesamanya. Jika hal itu terjadi, sikap terbaik yang dianjarkan Rasulullah Saw. adalah segera meminta maaf, itulah yang dilakukan Abu Dzar terhadap Bilal Ra dalam kisahnya.

Suatu hari, Abu Dzar Al-Ghifari terlibat percekcokan dengan Bilal. Karena kesal, Abu
Dzar berkata "engkau juga menyalahkanku wahai anak perempuan hitam". mendengar
dirinya disebut dengan sebutan anak perempuan hitam, Bilal tersinggung, marah dan
sedih. Kemudian ia melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah Saw. Beliau kemudian
menasehati Abu Dzar "Hai Abu Dza, benarkan kamu mencela Bilal dengan (menghinakan)
ibunya ? Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah,"

Mendengar nasihat Rasulullah Saw itu Abu Dzar menyadari akan perbuatan dan
kesalahanya. Saat itu segera ia menemui Bilal. Abu Dzar kemudian meletakan pipinya di tanah seraya mengatakan, "aku tidak akan mengangkat pipiku dari tanah hingga engkau injak pipiku ini agar engkau memaafkanku." Namun Bilal tidak memanfaatkan momentum itu untuk membalas dendam atas kepedihan dan kesedihannya, justru Bilal berkata : "berdirilah engkau, aku sudah memaafkanmu." Begitulah Abu Dzar dengan mudah dan berani mengakui kesalahan yang ia lakukan bukan dengan sengaja untuk menghina Bilal.

Sikap seperti itulah yang seharusnya ada pada diri kita saat kita berinteraksi dengan pihak lain, terutama orang-orang terdekat kita seperti suami, istri, anak, orangtua, saudara dan seterusnya. Orang yang tidak belajar mengakui kesalahan tidak akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. (***)